Posted in Inspirational, My Thoughts

The Courage to Be Disliked – 3rd Chapter: Discard Other People’s Tasks (2)

Hallo semua. Kita sampai di bagian kedua dari Bab Tiga. Kesimpuan pelajaran kemarin adalah: supaya hidup tidak ribet, kita harus belajar yang namanya separation of tasks. Kerjakan tugas masing-masing di dalam memajukan hidup masing-masing. Jadi misalnya si anak tugasnya belajar, ya orangtua tidak perlu terlalu stress berusaha mencampuri supaya anak belajar.

Atau bila seorang psikolog memiliki pasien, tugas si psikolog adalah memberikan terapi dan nasihat yang baik. Tapi adalah tugas si pasien untuk berubah dan keluar dari permasalahannya. Alasannya?

You are the only one who can change yourself.

TCD, p. 124

Membuang tugas orang lain

Bukan psikologi Adler kalau nggak lugas, tegas, dan agak kejam. Dipikir-pikir cara pikirnya mirip orang Belanda ya nggak suka banyak cang cing cong. Sang filosofer memberikan contoh-contoh lain dalam perihal memisahkan tugas ini.

Di awal buku ini sudah diceritakan bahwa si pemuda memiliki teman yang mengurung dirinya di kamar. Si teman ini tidak mau keluar, tidak mau bertemu orang lain, tidak mau bekerja. Alasannya? Mungkin dia punya trauma – tebak si pemuda. Kalau menurut sang filosofer, nggak ada tuh yang namanya trauma. Temanmu itu memang memutuskan untuk tidak bekerja dan tidak bersosialisasi, itulah mengapa dia menggunakan alasan trauma untuk mengurung diri. Analisa sang filosofer tentang alasan kenapa teman si pemuda ini mengurung diri sebenarnya panjang, sebagian ada di sini.

Lalu si pemuda bertanya, kalau kasus temannya bagaimana? Kalau anak kita bermasalah, apa tugas orangtua dan tugas anak?

Sang filosofer menjawab: untuk bisa keluar dari kamar dan dari masalahnya – semua itu adalah tugas si anak. Orangtua perlu menyampaikan pesan bahwa: “We’re here for you and we will give you help that you need.” – and that’s all. Dengan tidak memaksa si anak keluar, si anak jadi mengerti sendiri bahwa adalah tugasnya untuk keluar dari keadaan itu.

The act of believing is also the separation of tasks. You believe in your partner; that is your task. But how that person acts with regard to your expectations and trust is other people’s tasks. When you push your wishes without having drawn that line, before you know it you’re engaging in stalker-like intervention.

TCD, p. 127

Sang orangtua belajar untuk meninggalkan anak untuk melakukan tugasnya dengan sikap mereka mempercayai anak itu – they have faith in their child. Ikut campur atau mengambil alih tugas seseorang sebenarnya bukanlah membuat tugas orang itu ringan, malah membuat hidup mereka menjadi hidup yang berat dan sulit.

Bila kita menjalani kehidupan yang sulit dan penuh dengan kekuatiran, sekiranya hal ini disebabkan oleh relasi dengan orang lain, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah: belajar menetapkan batas: “Mulai titik ini, hal itu bukan menjadi tugasku lagi.”

Bagaimana membebaskan diri dari masalah relasi dengan orang lain

Nah, menentukan batas kalau sesuatu itu bukan bagian kita itu mah kayaknya doable ya. Tapi gimana kalau orang lain yang sepertinya tidak tahu batas itu?

Si pemuda ini punya masalah relasi dengan orangtuanya karena orangtuanya punya harapan untuknya melakukan karir A, tetapi dia memilih melakukan karir B. Bila dilihat, dalam hal sang orangtua lah yang telah melampaui batas tugas mereka. Tugas si pemuda adalah menentukan dan menjalani karirnya. Tapi orangtuanya ingin ikut menentukan. Alhasil, meskipun si pemuda akhirnya memang memilih karir B, dia senantiasa dihantui rasa bersalah karena telah mengecewakan orangtuanya.

What another person thinks of you – if they like you or dislike you, that is that person’s task, not mine.

TCD, p. 129

Inilah yang dinamakan separation of tasks, pemisahan tugas. Kita tidak perlu terlalu memikirkan pandangan orang lain, asalkan kita sudah memilih yang terbaik menurut prinsip yang kita percayai. Terlalu banyak memikirkan penilaian orang akan membuat kita gampang menyalahkan keadaan.

Contohnya bila seorang karyawan memiliki seorang boss yang kasar dan sedikit-sedikit marah, dia akan selalu serba salah di dalam melakukan segala sesuatu. Dan mungkin dia akan selalu ‘salah’ (ada kan ya orang yang begini, semuanya dilihat salah, padahal sih baik-baik aja). Dan akhirnya si karyawan ini bisa frustrasi karena tidak bisa memuaskan hati bossnya (yang emang susah puas), lalu mulai takut untuk bertindak.

Akhirnya dia akan memakai alasan: saya tidak bisa bekerja, karena boss saya selalu marah-marah. Nah ini sekali lagi aetiology banget. Menjadikan pengalaman masa lalu menjadi sebuah alasan untuk bersikap. Kalau pandangan teleology akan menilai orang yang begini memang pada dasarnya sudah memutuskan untuk tidak bekerja. Boss yang jutek dan pemarah hanya dipakai sebagai excuse belaka untuk membenarkan keputusannya.

Lho, kok bisa? Iya bisa, karena kalau si karyawan mau melakukan pemisahan tugas, kejadiannya akan menjadi seperti ini; Tugas si karyawan adalah bekerja, dan urusan bagaimana mengendalikan emosi yang berlebihan adalah tugas si boss itu sendiri. Si karyawan tidak perlu berlelah hati memikirkan bagaimana membuat bossnya merasa nyaman dan menjaga emosi beliau stabil. Dia cuma perlu melakukan tugasnya sendiri secara jujur dan bertanggungjawab.

Jadi setiap kali kita dihadapkan pada sebuah situasi, ajukan pertanyaan ini: TUGAS SIAPAKAH INI? Kenali tugasmu, jaga supaya tidak ada orang yang ikut campur dalam tugasmu dan jangan ikut campur dalam tugas orang lain!

Inilah satu kunci yang bisa mengubah kualitas relasi manusia dan menjawab segala persoalannya.

Gimana teman-teman, masih sanggup untuk terus membaca? Sampai besok lagi ya!

#maksakeunmaca
#onebookonemonth
#day11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *