Posted in Fiction, History, My Thoughts

Aarde der Mensen (1)

Judul buku: Aarde der Mensen (Bumi Manusia).

Penulis: Pramoedya Ananta Toer.

Tebal buku: 362 halaman.

Hallo Tukang Baca!

Kembali lagi bersama saya, kali ini membawa buku karangan salah satu pujangga besar Indonesia: Pramoedya Ananta Toer.

Buku yang saya bahas kali ini adalah buku yang spesial, karena merupakan Buku Indonesia yang saya baca di dalam bahasa Belanda. Waaaah… kok bisa ya? Iya, rasanya spesial banget pas ketemu buku ini di salah satu lemari perpustakaan mini gratisan di dekat rumah. Melihat nama penulisnya, saya kaget sekali ketika tahu ada toh ternyata karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda!

Saya sendiri sudah sering mendengar nama Pramoedya Ananta Toer, tapi baru kali ini membaca karyanya (kemana aja, jeng!). Maklum, antara saya jarang baca, atau lumayan sering baca tapi tidak terlalu sering membaca hasil karya anak negeri.

Dulu waktu saya masih menggemari buku, yang banyak tersedia hanyalah buku-buku Enid Blyton, Alfred Hitchcock, dan teman-temannya. Buku Indonesia yang pernah saya ‘dengar’ hanyalah buku-buku seperti novel Siti Nurbaya dan buku-bukunya N.H. Dini. Mereka hanyalah nama-nama yang sekilas saya dengar di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Parahnya, cuma namanya saja yang saya (pernah) dengar, bukunya malah tidak dibaca.

Eh iya, selain mereka ya adalah sedikit buku-buku remaja lah seperti Lupus, Zara Zettira. Setelah itu ada saya practically vacuum membaca buku, lalu merantau ke luar negeri. Itulah mengapa pengetahuan saya tentang pengarang Indonesia sangat minim seperti jumlah uang di rekening. Hihihi.

Jadi, untuk pembaca blog ini, jangan kezel duluan ya kalau saya agak-agak kudet. Yang jelas, saya merasa bahagia sekali memulai membaca buku ini. Meskipun kalau ditanya, mau nggak membaca bahasa Indonesianya? Saya akan jawab: nggak mau! Karena justru terasa spesial membaca di dalam bahasa Belanda…

Torn between two worlds

Buku ini bercerita tentang Minke, sang pemeran utama. Seorang pria Jawa yang dibesarkan di dalam gaya pendidikan Belanda. Dalam bab-bab pertama, Praymoedya Ananta Toer menggambarkan pergumulan Minke yang sudah mengadopsi gaya berpikir Eropa, tapi toh tidak diterima seutuhnya di dalam lingkungan Belanda.

Minke terpesona dengan kemajuan pemikiran dan juga perkembangan teknologi di Eropa yang dia pelajari dari guru-guru di sekolahnya (HBS alias hogere-burgerschool alias SMA), juga pada filosofi Eropa yang dia nilai lebih maju dibanding tata kehidupan orang Jawa.

Bahkan Minke berangan-angan tentang Ratu Wilhemina, yang menurutnya kecantikannya adalah kecantikan yang sempurna. Sayangnya terlalu jauh dari tidak mungkin dicapai oleh dirinya, yang hanyalah seorang pemuda dari negara bagian koloni Belanda.

Inhuldigingsportret van Koningin Wilhelmina, geschilderd door Thérèse Schwartze, 1898. (Potret pentahbisan Wilhemina, dilukis oleh Thérèse Schwartze). Foto: koninklijkhuis.nl

Di saat yang sama, Minke menyadari kalau dirinya bukanlah orang Belanda. Bahkan statusnya lebih rendah dan tidak dianggap dibandingkan orang-orang Indo (anak-anak pernikahan campuran Belanda dan Indonesia). Kemampuannya berbahasa Belanda dan juga pengetahuan yang dia miliki tidak dapat membuat dia betul-betul menjadi bagian dari kasta yang lebih tinggi itu.

Minke tetaplah orang Jawa, orang Indonesia, meskipun dia berpakaian dan berpikir seperti orang Belanda. Dia tetap menjadi orang yang dipandang sebelah mata oleh teman-temannya di sekolah, dan mungkin juga dipandang sebagai orang asing oleh bangsanya sendiri.

Ketika saya memasuki beberapa halaman pertama dari buku ini, seketika hati saya meleleh. I KNOW how it feels! Plus, buku ini dituliskan di dalam Bahasa Belanda, membuat sedikit banyak ada ‘cara berpikir’ orang Belanda yang tersirat di dalam bahasanya. Saya bayangkan kalau Minke ketika menceritakan dirinya sendiri waktu itu, mungkin dia memang menggunakan bahasa Belanda karena dia bersekolah, bekerja, dan hidup di lingkungan Belanda, bukan di lingkungan bangsanya.

Saya membayangkan kalau saya membaca buku ini di dalam bahasa Indonesia, mungkin pergolakan emosi ini tidak akan terlalu kuat dirasakan. Tetapi sebagai orang Indonesia yang lama merantau, sudah hidup sesuai dengan pola hidup Eropa (paling tidak di luar rumah), memakai bahasa mereka, mengalami dan menjalani sistem mereka – I feel you, Minke, I feel you.

Ini bukan berarti saya sok bule atau merendahkan orang Indonesia dan budayanya ya. Tidak sama sekali. Hanya saja, sekian tahun kita hidup di sebuah tempat, pasti lambat laun ada pergantian konsep yang mau tidak mau kita alami. Bahasa Belanda dan Indonesia (dan juga Bahasa Inggris dan semua bahasa di dunia) memiliki struktur dan aturan yang berbeda. Gaya bahasa yang berbeda. Ungkapan-ungkapan yang berbeda. Meskipun secara garis besar pastilah ada kesamaan, tapi hanya dari bahasa saja kita bisa melihat ada karakter yang unik dari masing-masing bangsa yang tercermin di dalam pilihan-pilihan kata di dalam menyatakan pendapatnya.

Lalu sistem pendidikan, apa yang penting di Indonesia ternyata tidak penting di Belanda dan sebaliknya. Sistem tata krama – yang intinya pasti bersikap saling menghargai satu sama lain tapi toh tidak sama pada detail pelaksanaannya. Di Indonesia, kita bisa dianggap tidak menyenangkan bila terlalu terus terang menyatakan ketidaksukaan kita. Tapi di sini, suka tidak suka, harus disampaikan karena itu dianggap menghemat banyak energi dan mengeliminasi banyak kesalahpahaman.

Hal-hal seperti itu dan masih banyak lagi membuat seseorang akhirnya seperti terjebak di antara dua kekuatan, di antara dua budaya, dua dunia. Di satu pihak saya semakin berpikir dengan filosofi Eropa sementara mungkin keluarga dan teman-teman lebih berpegang pada cara berpikir ke-Timuran. Di lain pihak saya pun sadar saya hanya seorang pendatang. Saya masih mengalami diskriminasi kecil-kecilan dari orang-orang yang rambutnya pirang, atau bsaya belum menguasai bahasa Belanda 100 persen seperti Minke dan tidak bisa juga blended dengan orang lokal: ngomel, gossip, ngeluh cas cis cus dengan lancar.

Belum lagi dengan anak-anak yang (terpaksa) dibesarkan dengan bahasa Belanda ala tarzan di rumah karena di sekolah mereka memakai bahasa Belanda dan saya harus membantu mereka untuk catch up. Ada gap yang sangat besar yang membuat saya frustrasi karena sangat tidak mudah untuk berbicara dengan anak-anak ketika saya sedang emosional (senang, sedih, marah, dan lain-lain) karena saya tidak (belum) lancar sekali berbahasa Belanda dan mereka tidak lancar berbahasa Indonesia.

Ada pola pikir dan cara pembawaan yang berbeda dari anak-anak Indonesia yang lahir dan besar di Belanda seperti anak-anak saya dan anak teman-teman saya karena mereka mendapatkan pendidikan seperti itu di sekolahnya. Homoseksualisme adalah hal biasa (tentu saja hal ini saya imbangi di rumah, dengan menjelaskan apa yang sebenarnya menurut iman kami), atau menjadi lulusan universitas bukanlah hal yang terlalu penting di dalam pendidikan – yang penting anak bahagia, dan lain sebagainya.

Pergolakan emosi yang terpancar dari narasi Minke di saat dia menceritakan pengalamannya dengan Robert Suurhof, temannya yang keturunan Indo, atau ketika dia masuk ke rumah keluarga Mellema (Rumah Nyai Ontosoroh), dan banyak narasi lain di dalam buku ini merupakan pergolakan emosi yang mirip dengan yang saya alami di sini.

I’m here, I’m part of these people, but still I’m different and I don’t belong to them…

Irene Cynthia

Baru-tahu .com

Namanya baca sesuatu, pasti dong ada beberapa hal baru yang kita pelajari. Atau hal-hal yang sudah lama kita tahu, tapi tidak pernah kita pertanyakan apa artinya. Dan tahu-tahu, gara-gara baca sebuah buku, kita jadi merasa, ‘Oh….aku kok baru tahu…’

Di dalam buku ini ada banyak hal-hal yang sifatnya baru-tahu.com buat saya, misalnya:

Istilah Nyai

Entah dari bahasa mana, tapi buku ini menjelaskan kalau kata Nyai (dalam bahasa Belanda ditulisakan Njai), artinya adalah wanita simpanan. Atau istri kedua, atau istri gelap, ya yang jelas bukan istri sah.

Istilah Nyai ini menggambarkan wanita dengan moral yang rendah.

Kata Buitenzorg

Nyai Ontosoroh menjelaskan kalau namanya Ontosoroh itu tercipta karena orang-orang lokal tidak bisa mengucapkan kata buitenzorg dengan baik. Alkisah Nyai Ontosoroh ini adalah istri simpanan Meneer Herman Mellema, seorang Belanda super kaya yang memiliki rumak bak sebuah istana di Wonokromo, sebuah kecamatan di Surabaya.

Nyai ini tinggal di Boerderij Buitenzorg (Peternakan Buitenzorg), yang luasnya berpuluh–puluh hektar, dengan puluhan orang Indonesia yang tinggal di tanah miliknya dan bekerja untuk dia. Karena orang-orang ini tidak bisa menyebutkan kata buitenzorg dengan baik, akhirnya mereka menyebutnya dengan kata Ontosoroh.

Nah, buat saya, saya sih bisa membaca kata Buitenzorg dengan baik dan benar (cieh, sombong!) tapi saya nggak tahu buitenzorg itu artinya apa! Buiten itu artinya: di luar, zorg itu artinya kekuatiran/perawatan. Dan ketika saya beberapa waktu lalu membaca dokumen-dokumen tua Hindia-Belanda di arsip di internet, saya sudah beberapa kali bertemu dengan kata buitenzorg tapi tidak tahu apa artinya. Saya tadinya menyimpulkan sambil lalu kalau itu mungkin nama sebuah departemen, bagian dari pemerintahan Belanda.

Sampai akhirnya saya membaca buku ini dan mengenyakan kemalasan untuk mencari tahu arti kata buitenzorg. Ternyata oh ternyata, buitenzorg itu adalah kata Belanda untuk nama kota Bogor, yang kalau diartikan secara harafiah artinya: tanpa kekuatiran (don’t worry be happy 😅). Ya ampun… kemana aja neng! 😂

De achterzijde van het paleis te Buitenzorg vóór de aardbeving van 10 oktober 1834, Willem Troost (II)

Keterangan foto di atas: tampak belakang dari Istana Bogor (Het Paleis te Buitenzorg) yang dibangun pada tahun 1745 oleh perintah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff, dilukis oleh pelukis Willem Troost (II) pada tahun 1834. Di tahun yang sama, terjadi gempa bumi yang besar akibat meletusnya Gunung Salak yang mengakibatkan istana ini rusak parah.

Istana Bogor dibangun kembali dan selesai pada tahun 1856, dan terus digunakan sebagai tempat tinggal para gubernur jenderal pemerintahaan Hindia Belanda. Dalam Perang Dunia ke-2, Jepang merebut istana ini dan mengambil banyak karya seni yang tersimpan di dalamnya.

Pada tahun 1950 pemerintah Indonesia mengambil alih istana ini dan menggunakannya untuk tempat beristirahat Presiden Sukarno di akhir minggu.

Ratu Wilhemina

Gara-gara Minke jatuh cinta pada Ratu Wilhemina dan punya fotonya di kamarnya 😅, saya jadi banyak membaca tentang Ratu Wilhemina. Ceritanya di buku ini Wilhemina dan Minke lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama, sayangnya tempatnya dan nasibnya berbeda. Itulah mengapa Minke sempat berandai-andai jangan-jangan dia jodoh sama Wilhemina. Haha, saya banget nih! Berandai-andai saya sebenarnya jodohnya Pangeran William, LOL.

Karena Minke menekankan bahwa Wilhemina itu cantiknya kayak bidadari, saya jadi google foto Wilhemina, dan ternyata benar, ratu ini cantik sekali pada masa mudanya.

Putri Wilhemina – Ratu Juliana – Putri Beatrix, tiga generasi pada tahun 1956. Foto: bnnvara.nl

Ratu Wilhemina ini merupakan ibu dari Ratu Juliana. Ratu Juliana adalah ibu dari Ratu Betrix, dan Ratu Beatrix adalah ibu dari Raja Willem-Alexander, Raja Belanda yang sekarang. Jadi, Wilhemina ini disebut cicit atau buyutnya Willem-Alexander ya? *Bingung 😅

Hubungan dekat antara kaum priyayi dengan pemerintah Belanda

Membaca tentang Minke, orang Indonesia yang ‘boleh’ bersekolah di HBS, sekolah Belanda karena dia adalah anak seorang regent (wedana?), dan juga membaca tentang Wilhemina yang ditahbiskan menjadi Ratu pada tanggal 6 September 1898 – yang dirayakan secara besar-besaran bukan saja di Belanda tapi juga di Indonesia! – saya jadi semakin bisa membayangkan suasana saat itu, bagaimana pada jaman itu Indonesia memang benar-benar dianggap bagian dari Kerajaan Belanda.

Dan kaum pribumi yang boleh merasakan privilege untuk mendapatkan pendidikan dan kemudahan saat itu hanyalah kaum-kaum priyayi: orang-orang yang membaktikan dirinya untuk bekerja di dalam susunan pemerintahan Belanda. Orang-orang ini kebanyakan berasal dari kaum bangsawan. Di dalam hal ini (buku ini), khususnya bangsawan dari pulau Jawa dan Sumatera (saya tidak punya banyak data tentang keluarga bangsawan dari pulau lain).

Yang menarik tentang Wilhemina dan pentahbisannya, saya pernah membaca secara terpisah sebuah buku berjudul De Gouden Koets (Kereta Emas) di perpustakaan. tentang kereta kencana milik kerajaan Belanda yang dipakai dalam acara-acara resmi seperti ulangtahun Ratu/Raja.

Buku De Gouden Koets. Foto: bibliotheekutrecht.nl

De Gouden Koets ini menjadi sebuah wacana yang kontroversial di Belanda, karena di badan keretanya ada lukisan yang menggambarkan penjajahan dan perbudakan yang dilakukan oleh Belanda atas negara-negara koloninya. Lukisan itu menggambarkan para budak dan para kaum priyayi merendahkan diri kepada seorang wanita (sang ratu) – sebagai lambang negara koloni ada di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Terjadi demonstrasi besar-besaran menentang penggunaan Gouden Koets di dalam acara kerajaan di masa sekarang ini, karena dinilai merendahkan martabat manusia dan mempromosikan/membanggakan perbudakan.

Lukisan tentang kolonialisme di pintu/badan kereta kencana Gouden Koets. Foto: wikipedia

Kok jadi nyasar ke Gouden Koets nih? Karena saya ingat di buku tersebut, De Gouden Koets yang kontroversial ini merupakan hadiah dari masyarakat kota Amsterdam kepada Ratu Wilhemina (sang pujaannya Minke) pada hari pentahbisannya! Dan di buku De Gouden Koets itu ada beberapa foto para pejabat (sultan dan pangeran) Jawa yang hadir di acara tersebut!

Duduk di dalam kereta sebelah kanan belakang: Sultan Saik (Riau) dan Pangeran dari Solo, dalam acara pentahbisan Ratu Wilhemina tahun 1989. Foto: onh.nl

Wow, buat saya yang ilmu sejarahnya cuma dapat 6 di rapor ini wow wow banget! Kebayang nggak sih di akhir tahun 1800an, para kaum priyayi itu sudah jalan-jalan ke Eropa dan ikut dalam acara kenegaraan! Berarti mereka punya hubungan yang dekat dan sangat sistematis dengan pemerintahan Belanda.

Di masa yang sama itulah lahir dan hidup R. A. Kartini, yang juga sama seperti Minke, mendapatkan ruang untuk bersekolah di sekolah Belanda. Sementara di buku ini, orang-orang Jawa pada umumnya digambarkan sebagai orang-orang yang tidak mengecap pendidikan.

Penutup

Buku ini belum selesai saya baca, dan sepertinya saya membutuhkan waktu cukup lama untuk membacanya (maklum, emak-emak plus kemampuan berbahasa pas-pasan). Tapi yang jelas seperti saya tuliskan di atas, buku ini memberikan begitu banyak cerita dan juga seperti memancarkan perasaan yang memiliki resonansi yang sama dengan seorang asing yang ada di tanah orang lain seperti saya.

Bagaimana nih teman-teman, para Tukang Baca apa sudah ada yang membaca buku ini, dan bagaimana kesan pertama kalian?

Ceritakan di kolom komentar dan nantikan insight berikutnya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *